SWARA INTERGENERASI 27 November 2021 – MAKIN DI TINDAS

 

Permohonan Musa dan Harun kepada Firaun untuk meminta izin bagi bangsa Ibrani untuk beribadah kepada Allah di padang gurun hanya menuai penindasan. Bukan sekadar tidak memberi izin, Firaun merasa perlu mengambil langkah taktis untuk meredam keinginan mereka.

Tidak tanggung-tanggung, Firaun memberikan maklumat: ”Tidak boleh lagi kamu memberikan jerami kepada bangsa itu untuk membuat batu bata, seperti sampai sekarang; biarlah mereka sendiri yang pergi mengumpulkan jerami, tetapi jumlah batu bata, yang harus dibuat mereka sampai sekarang, bebankanlah itu juga kepada mereka dan jangan menguranginya, karena mereka pemalas. Itulah sebabnya mereka berteriak-teriak: Izinkanlah kami pergi mempersembahkan korban kepada Allah kami. Pekerjaan orang-orang ini harus diperberat, sehingga mereka terikat kepada pekerjaannya dan jangan mempedulikan perkataan dusta” (Kel. 5:7-9). Ada tambahan pekerjaan, berarti pula tambahan waktu kerja, namun hasil kerja tidak boleh berkurang.

Mengapa Firaun menempuh kebijakan ini? Kemungkinan besar, Firaun ingin melakukan shock therapy ’terapi kejut’. Dia berharap bisa langsung memadamkan keinginan orang Ibrani. Dengan tambahan pekerjaan—bisa jadi itulah yang dipikirkan Firaun—tak ada lagi waktu bagi bangsa Ibrani untuk melakukan kegiatan lain. Dengan cara  begini, Firaun mungkin berpikir bahwa bangsa Ibrani akan semakin takut. Dan ketakutan akan membuat mereka taat tanpa syarat. Memang itulah yang terjadi. Bangsa Ibrani pun akhirnya menyalahkan Musa dan Harun.

Yang dilupakan Firaun adalah keinginan itu bukanlah inisiatif orang Ibrani, melainkan inisiatif Allah sendiri. Dan Allah mustahil tidak menggenapi apa yang difirmankan-Nya.

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published.

*
*