SWARA INTERGENERASI 26 Oktober 2021 – BIARKANLAH UMAT-KU PERGI

 

(Kel. 5:1-2)

Datang tampak muka, pulang tampak punggung. Itulah yang dilakukan Musa dan Harun. Mereka tidak pergi begitu saja dari Mesir, juga tidak melakukan pemberontakan.

Meski bangsa Mesir telah menjadikan bangsa Israel budak, sesungguhnya mereka adalah tamu di tanah Mesir. Firaun sendirilah yang telah mengundang nenek moyang mereka ke Mesir sebagai ungkapan terima kasih atas tindakan Yusuf, anak Yakub, yang telah menyelamatkan negeri dari bencana kelaparan global. Bangsa Israel adalah tamu. Agaknya itu jugalah pesan tersirat yang disampaikan oleh Musa dan Harun.

Kepada Firaun, mereka menyampaikan pesan Allah: ”Biarkanlah umat-Ku pergi untuk mengadakan perayaan bagi-Ku di padang gurun” (Kel. 5:1). Dalam kalimat ini nyatalah bahwa Allah telah mengangkat Israel menjadi umat-Nya. Israel adalah umat Allah. Israel adalah milik Allah. Meski berstatus budak, Israel bukan milik bangsa Mesir, tetapi milik Allah. Ada hubungan kepemilikan di sini.

Namun, Firaun tidak mengizinkan. Dengan tegas Firaun berkata, ”Siapakah TUHAN itu yang harus kudengarkan firman-Nya untuk membiarkan orang Israel pergi? Tidak kenal aku TUHAN itu dan tidak juga aku akan membiarkan orang Israel pergi” (Kel. 5:2).

Memang Firaun yang sekarang tidak mengenal Allah. Namun, mustahil dia tidak mengetahui-Nya. Sejarah telah mencatat sekitar 400 tahun lalu, Firaun—yang mengundang Israel ke tanah Mesir—berkata kepada pengawainya setelah mendengar usulan Yusuf, ”Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (Kel. 41:38). Kepada Yusuf, Firaun bertitah, ”Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu.”

Itu berarti penguasa terdahulu telah mengakui kemahakuasaan Allah. Ia juga mengakui bahwa Yusuf adalah umat Allah. Dan semuanya tentu tercatat dalam arsip kerajaan.

Hanya persoalannya memang di sini. Firaun yang sekarang tak mau belajar dari sejarah. Yang dipikirkan hanyalah kepentingan ekonomi negeri. Karena itu, ia tidak mau mengabulkan permintaan Musa dan Harun. Dan ketika sang penguasa tak mau belajar sejarah, maka kehancuran bangsa sudah di ambang pintu.

 

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*