SWARA INTERGENERASI 29 Juni 2021 – ALLAH PEDULI

 

Firaun kemudian memerintahkan bidan-bidan mereka, Sifra dan Pua, untuk membunuh semua bayi laki-laki (Kel. 1:15-16). Dan bidan-bidan itu ternyata lebih takut kepada Allah ketimbang raja Mesir. Di sini, jelaslah, Allah tidak meninggalkan Israel. Allah mengasihi Israel dengan bekerja melalui bidan-bidan itu. Keadaan memang pahit, tetapi Allah ada di antara mereka. Allah tidak meninggalkan Israel sendirian menanggung beban itu.

Firaun, yang makin kalut dan bingung, akhirnya memerintahkan membuang semua bayi laki-laki ke sungai Nil. Kelihatannya, Firaun merasa ditipu oleh Sifra dan Pua. Oleh karena itu, dia mengeluarkan maklumat yang kelihatannya tidak mungkin gagal: membuang semua bayi laki-laki ke sungai Nil (Kel. 1:22).

Namun demikian, tampaknya Firaun melupakan kuasa kasih seorang ibu. Kasih itulah yang memampukan Yokebed mengambil tindakan-tindakan yang sulit dinalar. Bagaimanapun, Amram, Yokebed, bahkan Miriam mempertaruhkan nyawa mereka demi seorang anak. Mereka pastilah tak pernah berpikir bahwa anak itu nantinya menjadi pemimpin Israel. Kasih memampukan mereka untuk menyelamatkan anak itu.

Marilah kita lihat strategi Yokebed! Dia kelihatannya sengaja menghanyutkan keranjang berisi anak itu ke tempat Puteri Firaun mandi. Yokebed juga memerintahkan Miriam untuk menjaga dan akhirnya bernegosiasi dengan Puteri Firaun. Dan yang menarik untuk diperhatikan, Puteri Firaun sendiri jatuh cinta dengan anak tersebut. Bahkan mau mengangkatnya anak dan menamainya Musa.

Kesimpulannya: Allah peduli. Allah bekerja melalui tiga perempuan untuk menyelamatkan Musa. Allah bekerja dalam diri Yokebed, Miriam, dan Puteri Firaun. Dengan begini, Allah telah menggagalkan rencana Firaun: membuang semua bayi laki-laki ke sungai Nil. Tidak semua. Ada satu yang selamat. Namanya Musa, artinya: yang ditarik dari air (Kel. 2:10).

Allah adalah pribadi yang peduli. Suasana dunia boleh berubah, dan memang harus berubah, tetapi kasih Allah tetap. Bahkan, jika Allah mau,  Dia sendirilah yang akan menyelamatkan orang-orang yang dikasihi-Nya dari maut.

Kita memang bukan bangsa Israel. Akan tetapi, kita bisa sepakat bahwa hidup memang sulit. Ada banyak perubahan yang sering tidak kita mengerti. Yang akhirnya, membuat kita meragukan kepedulian Allah. Kisah Israel dapat kita jadikan pegangan: Allah peduli dan siap menolong kita pada waktu-Nya.

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*