SWARA INTERGENERASI 23 Juni 2021 – PENGUASA YANG KURANG PERCAYA DIRI

 

Kitab Keluaran dimulai dengan kenyataan pahit. Penulis menyatakan dengan jelas munculnya penguasa baru yang tidak mengenal Yusuf. Sebenarnya dia dapat mengetahui kisah tentang Yusuf dari perpustakaan Kerajaan Mesir. Namun, apa mau dikata, dia agaknya sosok yang enggan belajar. Dia tidak mau belajar sejarah. Atau, mungkin dia memang sengaja melupakan sejarah.

Mungkin, penguasa baru itu memang tidak suka membaca. Namun, kemungkinan lain adalah penguasa baru itu tidak mau menerima kenyataan sejarah: ada seorang Ibrani yang menyelamatkan kerajaan Mesir dari bencana kelaparan. Pada titik ini gengsi nasionalismenya mencuat. Dia enggan menerima kenyataan. Dan akhirnya, dia memaklumkan kerja rodi bagi Israel.

Menarik disimak, bagaimana keputusan rodi itu diambil. ”Berkatalah raja itu kepada rakyatnya, ’Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya daripada kita. Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan—jika terjadi peperangan—jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini” (Kel. 1:10).

Sejatinya, tindakan yang dianggap bijaksana itu didasari oleh ketakutan yang berawal dari ketidakpercayaan diri. Ketidakpercayaan dirilah yang akhirnya memaksa mereka untuk mengambil kesimpulan bahwa orang Israel akan melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka. Masalah sang penguasa Mesir tampaknya memang di sini. Mereka tidak lagi percaya diri. Mereka takut bersaing dengan orang Israel. Mereka takut, seandainya orang Israel bertambah banyak, mereka akan melakukan pemberontakan. Padahal, jika menggunakan nalar sehat, hanya orang yang ditindaslah yang akan memberontak, bukan?

Semua penjelasan di atas bermuara pada satu kesimpulan saja: musim berganti. Keadaan yang semula baik menjadi tidak baik. Pertanyaannya: bagaimana respons kita jika musim berubah? Apa yang akan kita lakukan jika keadaan berubah 180 derajat?

Marilah kita simak kisah Israel. Kenyataan pertama, musim memang berganti. Hidup semakin sulit. Dari tamu resmi menjadi budak resmi negara. Namun demikian, dan ini kenyataan kedua, kasih Allah tetap.

Penulis Kitab Keluaran mencatat: ”Tetapi makin ditindas, makin bertambah banyak dan berkembang mereka, sehingga orang merasa takut kepada orang Israel itu (Kel. 1:12). Rencana tinggal rencana. Allah membuat orang Israel itu semakin bertambah banyak. Allah menggagalkan rencana raja Mesir itu untuk memusnahkan orang Israel.

Tindakan yang dianggap bijaksana itu ternyata berbuahkan ketakutan. Bak rumput, semakin dibabat semakin merambat. Ketika Israel semakin berkembang, mereka malah semakin takut. Awalnya, mungkin mereka merasa perlu membuat shock therapy ’terapi kejut’; hasilnya: malah mereka yang terkejut. Akhirnya, mereka menganggap bangsa Israel itu sebagai musuh, yang harus sungguh-sungguh dibinasakan.

Dan semuanya bermula dari Firaun yang kurang percaya diri.

 

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*