SWARA INTERGENERASI 29 April 2021 – VISI YANG MENJADI KENYATAAN

 

Mimpi Firaun menjadi kenyataan. Ada masa tujuh tahun kelimpahan yang menimpa Mesir. Bisa jadi masa kelimpahan itu dialami juga oleh negeri-negeri lain. Hanya bedanya Mesir memiliki Yusuf.

Masa kelimpahan itu tidak dibiarkan begitu saja oleh Yusuf. Dia menimbun semua gandum yang dihasilkan di lumbung-lumbung kota. Saking banyaknya, penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung” (Kej. 41:49).

Dalam masa kelimpahan itulah Yusuf mendapatkan dua anak laki-laki. Yang pertama diberi nama Manasye karena, ”Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku” (Kej. 41:51). Nama Manasye bunyinya seperti kata Ibrani yang berarti ”membuat lupa”. Inilah yang hendak disyukuri Yusuf.

Anak yang kedua diberi nama Efraim. Yusuf beralasan: ”Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku” (Kej. 41:52). Nama Efraim bunyinya seperti kata Ibrani yang berarti ”memberikan anak-anak”. Yusuf percaya bahwa segala yang baik itu berasal dari Allah sendiri.

Dari kisah kelahiran kedua anak itu, jelaslah Yusuf sungguh merasakan penyertaan Allah. Penyertaan Allah itu merupakan modal utama Yusuf ketika menjadi tangan kanan Potifar, juga ketika menolak godaan seksual dari istri Potifar. Di penjara pun Yusuf merasakan penyertaan Allah saat menjadi orang kepercayaan kepala penjara. Dan tentu saja penyertaan Allah tampak sewaktu Yusuf menafsirkan mimpi serta mengajukan solusi kepada Firaun.

Melalui Yusuf, Mesir ternyata menjadi berkat bagi banyak bangsa di sekitarnya. Penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Juga dari seluruh bumi datanglah orang ke Mesir untuk membeli gandum dari Yusuf, sebab hebat kelaparan itu di seluruh bumi” (Kej. 41:57).

Yakub pun memerintahkan anak-anaknya untuk membeli gandum ke Mesir. Dan ketika kesepuluh saudara—yang tak lagi mengenal Yusuf, menyembah dia, penulis Kitab Kejadian menulis: ”Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka.”

Apa yang bisa kita petik dari sini? Pertama, jangan abaikan mimpi kita, apalagi jika mimpi itu sungguh berasal dari Allah. Kedua, raihlah mimpi itu bersama dengan Allah sendiri. Dengan kata lain, maksud Allah harus diwujudkan dengan cara Allah. Seandainya Yusuf tergoda untuk bunuh diri setelah dia dijual sebagai budak, atau jika Yusuf jatuh dalam pelukan istri Potifar, maka mimpi Yusuf takkan pernah menjadi kenyataan.

 

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*