SWARA INTERGENERASI 23 Maret 2021 – YUSUF DI PENJARA

Kisah Yusuf di Mesir tak berhenti di penjara. Penjara tidak menenggelamkannya. Bahkan, penjara menjadi wahana dia mencapai puncak tertinggi dalam kariernya.

Penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu” (Kej. 39:21). Dalam Alkitab BIMK tertera: ”Tetapi TUHAN menolong Yusuf dan terus mengasihinya, sehingga kepala penjara suka kepadanya.”

Penyertaan Allah merupakan modal utama Yusuf. Sehingga, baik di rumah Potifar maupun di dalam penjara Yusuf mampu memperlihatkan diri sebagai orang dengan kualitas unggul.

Itu jugalah yang menyebabkan kepala penjara, sebagaimana Potifar, mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf. Tak hanya itu. Kepala penjara pulalah yang memerintahkan Yusuf untuk mengurus semua hal yang mestinya menjadi tanggung jawabnya. Saking percayanya, dia bahkan tidak mencampuri apa yang telah dipercayakannya kepada Yusuf.

Kelihatannya, tak hanya kepala penjara yang percaya kepada Yusuf. Bahkan orang-orang tahanan pun sepertinya mempercayai Yusuf. Bisa jadi karena Yusuf bersikap baik kepada para tahanan itu. Mudah dinalar mengapa juru minuman dan juru roti sama-sama menceritakan mimpinya kepada Yusuf. Mereka bercerita karena percaya kepada Yusuf.

Mungkin saja Yusuf kecewa karena juru minuman ternyata tak memenuhi janjinya setelah dikeluarkan dari penjara. Namun tindakan juru minuman itu malah membuatnya ingat lagi akan Yusuf ketika Firaun juga pusing terhadap arti dari mimpinya itu.

Namun, dalam semuanya itu, kita bisa melihat bahwa Yusuf tetap menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Dia tidak menjadi marah dan putus asa. Tampaknya Yusuf sadar, kemarahan atau keputusasaannya hanya akan membuat pelayanannya menjadi kendor. Ujung-ujungnya dia sendirilah yang akan kena tegur. Dan bisa jadi kepala penjara tak lagi mempercayainya.

Kelihatannya Yusuf percaya bahwa jalan yang paling logis adalah terus mempercayakan diri kepada Allah. Toh, dia sendiri sudah menjadi kesayangan kepala penjara.

Kisah Yusuf di penjara juga memperlihatkan kepada kita, orang percaya abad XXI, untuk terus mempercayakan diri kepada Allah—seburuk apa pun situasi kita—serta melakukan tugas sebaik-baiknya.

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*