SWARA INTERGENERASI 18 Nopember 2020 – REKONSILIASI

Reconciliation Animated Word Cloud, Text Stock Footage Video (100% Royalty-free) 23914855 | Shutterstock

Oleh: Pdt. Yoel M Indrasmoro

Yakub takut bertemu dengan Esau (lih. Kej. 32:1-21). Dia takut Esau akan membunuhnya. Bagaimanapun, Yakub memang salah. Dia telah memaksa Esau menukar hak kesulungan dengan ”masakan yang merah-merah itu” (lih. Kej. 25:29-34); juga telah menipu ayahnya sehingga berkat kesulungan menjadi miliknya (lih. Kej. 27:1-40).

Untuk mengatasi ketakutannya, Yakub membuat strategi. Dia mengirimkan utusan untuk bertemu dengan Esau. Namun, utusan itu kembali dengan menyatakan bahwa Esau telah siap menyambut kedatangannya dengan diiringi 400 orang. Dalam ketakutannya, Yakub memecah rombongannya menjadi dua.

Yakub menyuruh rombongan pertama berangkat dengan membawa semua hartanya dengan maksud melunakkan hati Esau. Dalam rombongan kedua pun, Yakub membaginya lagi, Bilha dan Zilpa serta anak-anak mereka berjalan dahulu. Baru Lea dan anak-anaknya, yang disusul dengan Rahel dan anak-anaknya. Yakub, yang memimpin rombongan kedua itu, langsung sujud ke tanah tujuh kali sembari mendekati Esau.

Akan tetapi—inilah yang menarik dari perjumpaan dua bersaudara ini—penulis Kitab Kejadian mencatat: ”Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka” (Kej. 33:4).

Esau mengambil langkah pertama. Esau tidak menempatkan diri terus sebagai korban dari kejahatan adiknya. Namun, dia menjadikan dirinya sebagai pengampun. Memang hanya orang yang pernah disakiti yang bisa mengampuni. Dan itulah yang dilakukannya.

Tindakan Esau ini sungguh mengejutkan Yakub. Sang Adik mengakui: ”melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah, dan engkau pun berkenan menyambut aku” (Kej. 33:10). Kenyataan ini tak pernah diperhitungkan Yakub. Dia agaknya lupa bahwa Allah sanggup mengubah hati seseorang. Rekonsiliasi sejati hanya mungkin terjadi ketika Allah campur tangan.

Keluarga semestinya menjadi tempat di mana anggota-anggota keluarga belajar saling mengampuni. Jangan terpaku pada masa lampau. Itu hanya akan membuat si korban tetap merasa sebagai korban; sedangkan yang lain merasa terus bersalah. Dan pengampunan sejati hanya mungkin terjadi tatkala Allah turun tangan.

 

Salam InterGenerasi,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*