SWARA INTERGENERASI 31 Agustus 2020 – MENCARI JODOH

 

Nama hamba Abraham itu Eliezer. Artinya: Allah penolong. Tak banyak catatan tentang dirinya dalam Alkitab. Namun, dari yang sedikit itu, nyatalah bahwa kisah Eliezer selaras dengan arti namanya.

Abraham menugasi Eliezer untuk mencari calon istri bagi Ishak. Pada masa itu hal kayak begini lazim terjadi. Kepala keluarga meminta hamba kepercayaannya mencarikan jodoh untuk anaknya. Lagi pula, jauh sebelum kelahiran Ismael dan Ishak, Abraham pernah berencana mengangkat Eliezer sebagai ahli warisnya.

Menurut penulis Kitab Kejadian, Eliezer adalah hamba tertua dan mempunyai wewenang atas segala milik Abraham. Jadi, hubungan antara Abraham dan Eliezer memang sangat baik. Tak heran, jika Abraham sangat memercayainya.

Namun, syarat yang diberikan Abraham cukup berat. Calon istri itu haruslah berasal dari negeri asal Abraham sekaligus kerabat Abraham. Dan menjadi lebih rumit karena Ishak tidak boleh turut memilih. Tak mudah bukan? Mencari istri yang sesuai, namun calon mempelai laki-laki tidak terlibat dalam proses pemilihan itu. Lalu, dari mana Eliezer tahu bahwa mereka merupakan pasangan sepadan?

Setelah mendengar semua titah majikannya itu, Eliezer pun pergi. Dan sebagaimana tuannya, Eliezer mengomunikasikan tugasnya itu kepada Allah. Di kota Nahor, dekat sebuah sumur, dia berdoa.

Demikianlah doanya: ”TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham. Di sini aku berdiri di dekat mata air, dan anak-anak perempuan penduduk kota ini datang keluar untuk menimba air. Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum—dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu” (Kej. 24:12-14).

Eliezer ingin yang terbaik bagi Ishak. Dan yang terbaik itu bukanlah paras cantik, tubuh ideal, dan intelektual tinggi, namun dia berharap calon istri Ishak adalah seorang yang gemar menolong.

Gemar menolong itulah kriteria yang ditetapkan Eliezer bagi calon istri Ishak. Dia tidak ambil kepentingan dalam hal ini. Dia sungguh-sungguh ingin yang terbaik dan demi kepentingan Ishak. Eliezer sungguh ingin calon istri Ishak dapat menjadi penolong yang sepadan.

Tak sekadar gemar menolong. Eliezer akan meminta minum kepada gadis itu, tetapi dia berharap gadis itu tidak hanya memberikan air kepada dirinya, tetapi juga unta-untanya. Artinya, Eliezer berharap calon istri Ishak tidak sekadar gemar menolong, tetapi mau melakukan lebih dari yang diminta.

Calon istri itu tidak hanya memberi pertolongan, namun harus lebih dari yang diharapkan. Menolong lebih dari yang diharapkan merupakan sifat keutamaan karena banyak orang cukup puas dengan memberi yang secukupnya. Eliezer ingin calon istri majikannya itu memberi dari yang seharusnya.

Itulah strategi Eliezer yang keluar dari hati yang ingin memberikan yang terbaik bagi tuannya sekaligus buah dari akal budi yang terlatih baik! Dan Allah menjawab doa sekaligus strateginya. Akhirnya, Eliezer berhasil mendapatkan istri bagi Ishak.

Kisah pencarian jodoh ini memperlihatkan kepada kita orang percaya abad XXI untuk tidak asal mencari jodoh. Kriteria suka menolong, bahkan lebih dari yang seharusnya, bisa menjadi kriteria bagi anak-anak kita. Mengapa? Karena dengan kriteria macam begini akan dihasilkan generasi baru yang gemar menolong orang lain.

Salam InterGenerasi,

 

Pdt. Yoel M. Indrasmoro

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*