SWARA INTERGENERASI 29 Mei 2020 – LALU PERGILAH ABRAM

Satu Harapan: Lalu Pergilah Abram”Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya” (Kej. 12:4). Demikianlah catatan penulis Kitab Kejadian berkait dengan panggilan Allah kepadanya. Menarik disimak, Abram, yang namanya berarti Bapa Agung, menanggapi sabda Allah itu. Mengapa Abram melakukannya?

Kemungkinan besar Abram memahami diri sebagai pribadi pilihan—yang dipanggil secara khusus. Setidaknya, sabda tersebut memang diperuntukkan bagi dirinya. Bisa jadi Abram sendiri menyadari bahwa semuanya adalah anugerah—tidak ada alasan apa pun bagi Allah untuk memilih Abram. Namun, toh Allah memilihnya.

Kenyataan itulah kemungkinan besar yang membuat Abram percaya kepada Allah. Percaya berarti memercayakan diri. Abram memercayakan dirinya kepada Allah karena dia merasa Allah telah percaya kepada dirinya untuk menjadi bangsa yang besar sekaligus menjadi berkat bagi banyak orang.

Namun demikian, Abram tidak menggantungkan dirinya pada janji-janji Allah itu. Dia memercayakan dirinya kepada Allah—bahwa Allah sanggup menaati janji-Nya. Dan karena itulah Abram pergi!

Pergi merupakan tindakan iman. Pada kenyataannya Abram meninggalkan apa yang sudah pasti bagi dirinya—keluarganya, sanak saudaranya, lingkungannya. Abram meninggalkan semua kepastian itu untuk pergi ke sesuatu yang tidak pasti. Allah sendiri tidak menunjukkan alamat yang dituju. Kepastian tempat itu memang bukan pada alamat atau geografi, tetapi kepada Allah yang akan menunjukkan tempat tersebut.

Dan karena itulah, Paulus menegaskan: ”Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu [kepercayaan Abraham] kepadanya sebagai kebenaran” (Rm. 4:3). Dalam BIMK tertera: ”Abraham percaya kepada Allah, dan karena kepercayaannya ini ia diterima oleh Allah sebagai orang yang menyenangkan hati Allah.”

Paulus berkesimpulan bahwa Allah menerima Abraham sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya. Mengapa? Karena ia memahami posisinya sebagai hamba. Dan hamba sejati selalu berusaha menyenangkan hati tuannya!

Keluarga semestinya menjadi tempat di mana setiap anak belajar peka terhadap panggilan Allah, lalu menaati panggilan Allah itu. Pada titik ini anak bisa belajar dari orang tuanya. Dengan kata lain, orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anak mereka—bagaimana mereka peka dan menghidupi panggilan Allah itu dalam kehidupan sehari-hari.

 

Salam InterGenerasi,

 

Pdt. Yoel M. Indrasmoro

Anak Bersinar Bangsa Gemilang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*