SWARA INTERGENERASI 14 Mei 2020 – MENARA BABEL

Belajar Arti Kesatuan dari Menara Babel

Dimanakah letak kesalahan pembuatan Menara Babel? Pastilah bukan pada menara itu sendiri, sehingga Allah menghentikan pembangunan menara tersebut.

Juga bukan pada kemampuan manusia membangun. Bagaimanapun, manusia—yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah—pasti mempunyai kemampuan mencipta. Selaku gambar Allah manusia memiliki daya cipta.

Kreativitas merupakan bukti terkuat bahwa manusia memang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Manusia yang tidak kreatif sesungguhnya mengingkari panggilannya selaku manusia. Artinya, mengingkari kenyataan diri sebagai gambar Allah.

Lalu, di mana kesalahannya? Kemungkinan besar pada motivasi di balik pembuatan menara. Itu jelas terlihat dalam catatan penulis Kitab Kejadian: ”Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej. 11:4).

Mendirikan sebuah kota dan sebuah menara yang sampai ke langit bukan soal. Persoalan besarnya terletak pada tujuannya: cari nama! Di dalam Alkitab Bahasa Indonesia Masa Kini (BIMK) dinyatakan: ”supaya kita termasyhur”. Menara itu dibuat agar manusia terkenal!

Sekali lagi, kesalahan bukan terletak otak manusia, bagaimanapun itu karunia Tuhan; juga bukan pada hasil kreativitas manusia, dalam hal ini menara Babel; namun pada motivasi manusia. Manusia ingin cari nama! Manusia ingin terkenal! Manusia ingin dipuji! Sejatinya, semuanya itu merupakan bentuk perlawanan kepada Sang Pencipta.

Hal itu jelas terlihat saat mereka tak mampu lagi bekerja sama ketika tak lagi saling memahami percakapkan. Kalau bukan kesombongan yang menjadi dasarnya, pastilah mereka berupaya memakai bahasa tubuh! Kenyataannya tidak! Mereka tak mampu lagi bekerja sama karena setiap orang ingin mencari nama bagi dirinya sendiri. Ketika dua orang mencari nama bagi dirinya sendiri perpecahan pun tak terhindarkan ketika ada hambatan komunikasi.

Dalam kehidupan pertikaian, bahkan perpecahan, terjadi ketika setiap orang berlomba mencari nama. Dan mencari nama bagi diri sendiri sering bermuara pada pemuliaan diri, yang bertujuan membawahkan orang lain.

Sesungguhnya keluarga bisa menjadi tempat di mana setiap orang belajar untuk tidak mencari nama bagi diri sendiri. Satu-satunya pribadi yang boleh dimuliakan adalah Allah sendiri. Dan orang tua harus menjadi teladan dalam hal ini.

Salam InterGenerasi,

Pdt. Yoel M. Indrasmoro

Anak Bersinar Bangsa Gemilang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*